momen haru menparekraf dipeluk wanita tua sebatang kara di desa wisata hilisimaetano UQYRRnDT1s Momen Haru Menparekraf Dipeluk Wanita Tua Sebatang Kara di Desa Wisata Hilisimaetano : WartaRingan Economy

Momen Haru Menparekraf Dipeluk Wanita Tua Sebatang Kara di Desa Wisata Hilisimaetano : WartaRingan Economy

Posted on



JAKARTA – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno melakukan kunjungan kerja ke Sumatera Utara. Dirinya mengunjungi salah satu desa wisata Hilisimaetano, Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan.

Adapaun kedatangan Sandiaga terkait dengan program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Di mana Desa Wisata Hilisimaetano masuk sebagai 50 desa/kampung wisata terbaik tahun ini.

Pada kunjungan tersebut, ada momen hari saat Sandiaga bertemu Sitime Dachi (65) seorang ibu yang tinggal sebatang kara di gubuk berukuran 2×2 meter.

Mulanya Sitime yang didampingi Sekretaris Desa Hilisimaetano, Kristiaman Dachi menceritakan kondisinya saat ini. Wanita yang memiliki keterbatasan penglihatan itu mengaku kerap merasa kedinginan ketika hujan.

“Saya tinggal di sini kurang lebih sudah kurang lebih 10 tahun. Saya tinggal sendiri di sini dengan keadaan tempat tinggal yang kita lihat sendiri di sini,” kata Sitime, Jumat (24/6/2022).

Baca Juga: Sandiaga Uno Kenalkan Kesenian Jibrut, Apa Itu?

“Anak laki-laki saya meninggal, yang harusnya mengurus saya. Sehingga saya sendiri di sini pak Menteri,” lanjut Sitime.

Melihat kondisi yang memperlihatkan, Sandiaga memutuskan untuk memberi bantuan sembako dan modal untuk membeli bahan-bahan perbaikan rumah.

“Saya ingin memberikan modal untuk membeli bahan-bahan untuk memperbaiki rumah Ina, bu Sitime agar tidak kedinginan kalau lagi hujan. Saya minta pak Sekdes ini tolong dikerjakan segera secara gotong royong melibatkan masyarakat dalam membantu ibu Sitime ini,” ucap Sandiaga.

Momen haru terjadi setelah pernyataan bantuan tersebut diucapkan oleh Sandiaga. Sitime dengan spontan memeluk Sandiaga sembari mengucap rasa syukur dan berdoa.

Baca Juga: Pariwisata Indonesia Bangkit, Investasi di Teknologi Amat Penting

“Saya berdoa pak Menteri sehat dan pak Menteri jadi pemimpin besar di negeri ini. Tidak ada balasan ke pak Menteri hanya Tuhan yang membalas kebaikan pak Menteri,” ungkap Sitime.

Sandiaga Salahuddin Uno kagum menyaksikan adat istiadat dan budaya di Desa Wisata Hilisimaetanö, Kecamatan Maniamölö, Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara yang masih dijaga dan dilestarikan dengan baik oleh masyarakat setempat.

“Kekentalan adat budaya lompat batu, tari perang, tari harimau, sampai penganugerahan tadi sudah saya nikmati. Saya melihat kekentalan sejarah dan budaya, saya melihat ini adalah atraksi utama kita, tradisi budaya untuk mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif Nias Selatan. Ini adalah pariwisata berbasis komunitas,” kata Menparekraf Sandiaga, saat visitasi Desa Wisata Hilisimaetanö yang masuk ke dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, Rabu (22/6/2022).

Desa Wisata Hilisimaetanö merupakan salah satu desa adat tertua di tanah Nias Selatan. Hingga kini, Desa Hilisimaetanö masih teguh menjaga nilai adat istiadat serta peninggalan para leluhur mereka.

Hal ini bisa terlihat pada saat memasuki desa, terdapat Batu Megalitik yang menandakan pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar.

Kemudian, 50 rumah adat yang bangunannya masih terpelihara dengan baik. Namun sangat disayangkan, ada satu rumah adat tertua yang runtuh akibat dampak dari tsunami Aceh tahun 2004.

Tidak hanya itu saja, sistem pemerintahan yang dijalankan masih mengikuti sistem adat. Dimana sistem kepemimpinan adat desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias.

Kemudian, para cendekiawan atau yang disebut Si’ila berperan sebagai pemberi nasihat kepada bangsawan. Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) yang terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa).

Saat Menparekraf tiba di desa, ia disambut oleh Tarian Mogaele, yang biasa dilakukan untuk menyambut tamu kehormatan. Jika berbicara mengenai Nias tentunya yang langsung terbayang adalah tradisi lompat batu atau yang disebut fahombo. Tradisi ini menjadi suguhan atraksi wisata yang menarik bagi wisatawan.

Tradisi lompat batu biasanya dilakukan para pemuda dengan cara melompati tumpukan batu setinggi kurang lebih dua meter. Ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka pantas dianggap dewasa dan memberikan sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluarga mereka.

Kendati demikian, tidak semua anak laki-laki sanggup melakukan tradisi ini, karena walaupun mereka dilatih sejak dini, masyarakat Nias percaya ada keterlibatan magis dari roh leluhur yang membuat mereka berhasil melompati batu dengan sempurna.

Dalam visitasinya, Menparekraf bertemu dengan anak-anak yang sedang latihan lompat batu di sebuah replika lompat batu kecil dan para pemuda yang melakukan lompat batu sungguhan. Anak-anak kecil di desa memang rutin melakukan latihan setiap pekan, agar tradisi lompat batu di Desa Hilisimaetanö tidak punah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *