Heboh Kasus Peretasan Bjorka Ini Penyebab Indonesia Masih Rentan Kebocoran Heboh Kasus Peretasan Bjorka, Ini Penyebab Indonesia Masih Rentan Kebocoran Data : WartaRingan techno

Heboh Kasus Peretasan Bjorka, Ini Penyebab Indonesia Masih Rentan Kebocoran Data : WartaRingan techno

Posted on


KASUS peretasan yang dilakukan Bjorka dengan membocorkan data masyarakat dan sejumlah pejabat Indonesia masih menjadi topik hangat. Namun, Satgas perlindungan data sudah dibentuk demi mencegah hal tersebut terulang.

Tapi, menarik untuk melihat apa yang menjadi penyebab Indonesia masih rentan akan kebocoran data. Hal ini dibahas oleh Harry Adinanta, CEO Seclab Indonesia yang merupakan seorang konsultan keamanan siber.

Harry mengatakan perhatian terhadap kemanan siber di Indonesia masih sangat minim sebelum kasus pembocoran data dilakukan oleh Bjorka. Tetapi, ia mengatakan pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang memegang data masyarakat juga terus berupaya memperkuat keamanan mereka.

“Untuk saat ini, kami terus mensosialiasikan pentingnya keamanan siber. Jadi, sebenarnya untuk rentan atau tidaknya bisa diatasi jika seluruh masyarakat sudah teredukasi dengan baik dalam mengamankan datanya,” kata Harry kepada MNC Portal.

“Scurity Lab juga sudah bekerja sama dengan perbankan, perusahaan telekomunikasi, dan pemerintahan. Jadi, sebenarnya pihak-pihak terkait bukannya tidak melakukan apa-apa, tapi sudah berusaha semaksimal mungkin.”

BACA JUGA : 5 Penangkapan Hacker, Ada yang Dipenjara 13 Tahun

Namun, Harry Adinanta juga mengingatkan bahwa seorang peretas juga terus mengasah kemampuan mereka. Bahkan di dalam komunitas ada semacam uji kompetensi, ini akan meningkatkan level mereka.

BACA JUGA : Daftar 5 Kasus Peretasan Terbesar, Facebook Salah Satu Korbannya

Oleh karena itu, pemerintah dan perusahaan yang memegang data masyarakat harus dapat mengimbangi kemajuan pada peretas. Menurutnya, menggandeng para peretas di Indonesia yang tergabung dalam white hat hacker bisa menjadi solusi.

“Saya sepakat jika pemerintah menggandeng mereka-mereka yang ahli di bidang keamanan siber, tapi juga kriminalnya, ujar Harry.

“Para peretas yang jahar bisa dimanfaatkan oleh polisi agar memahami bagaimana cara mereka membocorkan data. Tapi, saya sebagai praktisi bagian security, ya ada baiknya pemerintah bisa menggandeng orang-orang baik.”

Harry Adinanta juga menegaskan pemerintah Indonesia bisa memperbesar anggaran untuk meningkatkan keamanan siber. Menurutnya, semakin penting data yang dilindungi maka memerlukan alat dan teknologi yang lebih canggih.

“Besar biaya yang dikeluarkan itu harus sesuai dengan risikonya. Misal, kita menghabiskan dana Rp1 juta untuk mengamankan satu aset yang nilainya Rp1.000, ini kita rugi,” ucap Harry.

“Jadi untuk biaya cyber security itu selalu dikaitkan dengan apa yang kita lindungi. Seberapa penting data yang dilindungai dan seberapa besar risikonya. Memang tidak terlihat murah, tapi itu sangat layak.”

Untuk hal minor, tapi sebenarnya memberikan dampak, Harry juga menegaskan hal tersebut perlu mendapatkan perhatian. Pihak cyber scurity yang ditugaskan harus bisa melihat apa yang terjadi sehingga sistem dapat dibobol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *